Budidaya Itik | Budidaya Bebek | Itik | Bebek

Diposting oleh RDJ on 16 Agustus, 2010

Budidaya Itik | Budidaya Bebek | Itik | Bebek




BAYANGAN kita menggambarkan peternak itik adalah seorang petani yang sedang menggiring itik dari satu petak sawah ke petak sawah lainnya selesai dipanen. Hal ini dilakukan peternak tradisional untuk menghemat biaya pakan. Namun tentunya sejalan dengan masa pengolahan tanah, musim tanam maka pengembalaan itik pun menjadi terbatas. Pengembangbiakan dengan cara demikian sangatlah menyulitkan karena menyita waktu dan tenaga, juga berisiko terkena racun dari bangkai dan pestisida. Bahkan banyak terjadi produktivitas (masa bertelur -red) paling hanya 12% per tahun akibat stres.
Sejak beberapa tahun yang lalu pemeliharaan itik dikembangkan ke arah sistem pemeliharaan yang lebih intensif, tetapi sampai sejauh ini masih sangat bervariasi, baik cara pengelolaan, bentuk kandang, jenis ransum dan lain-lainnya. Sampai sejauh ini kegiatan usaha peternakan itik intensif baru dilakukan oleh para peternak yang relatif punya modal cukup. Dengan sistem intensif, bukan saja kondisi ternak lebih terkontrol, keamanan lebih terjamin, juga produktivitas ternaknya lebih baik serta skala usaha dapat terus ditingkatkan. Oleh karena itu walaupun dalam skala usaha yang kecil, peternakan itik intensif pada umumnya sudah dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian utama. Sehingga peternak yang pemilikan itiknya 500 ekor dapat berpenghasilan jutaan rupiah per bulannya.
Kegiatan usaha peternakan itik, cukup banyak memberikan pilihan, semua kegiatan usaha peternakan itik memungkinkan untuk dilaksanakan oleh peternak. Peternak bisa memiliki, apakah di bidang pembibitan, produksi telur, pengolahan hasil, atau bahkan produksi pakan atau kegiatan lainnya.
Untuk sistem intensif ataupun sistem ekstensif, jenis ternak bisa jenis itik Tegal, Magelang, Cihateup ataupun jenis itik lainnya. Bahkan untuk itik yang biasa digembalakan pun dapat dipelihara terkurung tetapi memerlukan waktu adaptasi antara 2 minggu sampai 1 bulan. Yang paling penting dalam memiliki bibit untuk peternakan itik intensif adalah seleksi pemilihan bibit berdasarkan penampilan. Bibit yang baik akan tampak cerah baik dilihat dari matanya maupun dari bulunya, gerakannya lincah dan aktif, berjalan tegak, bentuk tubuh lebih besar ke bagian belakang, ujung bulu sayap menyilang, umur relatif masih muda.

Perhatikan Kakinya
Apabila kita membeli itik siap telur atau yang sudah mulai bertelur di samping bentuk tubuh, juga harus diperhatikan umur ternak karena salahsatu sifat genetis itik adalah rontok bulu setiap kali selesai masa produksi telur. Bulu akan tumbuh kembali dalam waktu lebih kurang 2 bulan, sehingga penampilan itik akan tampak lebih muda lagi. Untuk membedakan umur itik, apakah sudah cukup tua atau masih muda dapat dilihat terutama pada kakinya. Kaki itik tua akan tampak buku-buku jarinya dan sendi pangkal kakinya relatif lebih besar dan kasar, demikian juga sisik kakinya tampak besar-besar dan kasar. Pada itik yang lebih tua lagi kulit pada pangkal sayap bagian depan akan terlihat berwarna kehitam-hitaman. Walaupun untuk tujuan produksi telur, tetapi pada umumnya pada setiap kelompok itik betina (40 - 50 ekor) disediakan 1 ekor itik pejantan.
Yang paling berbeda dari kedua sistem pemeliharaan ini adalah model kandang, pengelolaan dan pakan ternak. Kandang untuk pemeliharaan itik yang intensif harus cukup memberikan kenyamanan dan keamanan, lokasi kandang harus di tempat yang relatif sepi dan jauh dari lalu-lintas, model kandang juga harus mampu melindungi ternak dari gangguan cuaca (hujan, angin dan terik sinar matahari). Selain itu kandang yang baik harus terhindar kontak langsung antara ternak dengan pemeliharanya. Walaupun tidak begitu nampak, itik merupakan ternak yang mudah terganggu dan stres. Stres pada itik tentunya mengurangi produksi telur. Oleh karena itu pelaksanaan setiap kegiatan di dalam kandang, seperti memberi makan, minum, mengganti alas kandang dll harus dapat dilaksanakan tanpa mengganggu kenyamanan ternak.
Kandang itik berbeda dengan kandang ayam atau kandang ternak lainnya (lihat gambar). Kandang itik terdiri dari dua bagian yaitu kandang tempat bertelur, istirahat dan kandang umbaran. Kandang tempat bertelur mempunyai dinding tertutup sedangkan tempat umbaran terbuka. Atap kandang sebaiknya menutupi seluruh bagian kandang termasuk kandang umbaran, agar dapat menghindari itik dari panas terik matahari dan hujan.

Pemberian Pakan
Pada pemeliharaan intensif pemberian pakan diberikan dua kali sehari dengan diselingi pemberian hijauan (eceng, kangkung dll) pada tengah hari, sedangkan pemberian air minum disediakan terus menerus. Tempat makan dan tempat minum harus diletakkan berdekatan karena mengambil makanan dan minuman dilakukan bergantian. Makan pagi diberikan pada pukul 06.30 dan sudah harus tersedia di tempat umbaran sebelum kandang tempat bertelur dibuka. Pengambilan telur dapat dilaksanakan pada saat itik sedang makan. Pemberian makanan hijauan dilakukan pukul 11.00 di dalam kandang bertelur, dan itik dibiarkan istirahat sampai saat makan siang tiba. Makan siang disediakan di kandang umbaran sekitar pukul 13.00. Kemudian pada pukul 17.00 itik harus dimasukkan ke kandang bertelur. Luas kandang tergantung kepada jumlah itik yang dipelihara, tetapi setiap kelompok itik diusahakan tidak lebih dari 50 ekor, kepadatan kandang antara 4-8 ekor/m2.
Jenis pakan itik sangat bervariasi antar daerah, bukan hanya tergantung kepada ketersediaan jenis bahan pakan, tetapi juga tergantung kepada kebiasaan di daerah yang bersangkutan. Bahan pakan yang biasa diberikan di antaranya, konsentrat itik, dedak halus, menir, nasi aron, jagung giling, gabah, tepung ikan, bekicot, keong mas, lancang, kepala kodok, mineral itik dll. Namun setiap peternak meracik ransum berbeda-beda. Ada yang meracik 1: 4-5, antara konsentrat dan dedak ditambah 2%, mineral dengan pemberian 150 - 170 gram/ekor/hari. Peternak lain meracik ransumnya dengan campuran 2:1:10 atau 12:50:100 antara konsentrat, lancang dan dedak halus. Tetapi berbagai jenis ransum yang diberikan cukup memberikan hasil sesuai yang diharapkan, walaupun secara teoritis ransum itik harus mengandung protein kasar antara 15 - 17 % dan energi metabolis 2.700 kkal/kg, Ca 2,73-3% dan P 0,60%. Yang harus lebih diperhatikan dalam penyediaan ransum itik adalah penggunaan bahan pakan harus diusahakan tetap karena setiap pengurangan maupun penambahan pakan akan berpengaruh terhadap produktivitas telur.
Demikian pula penyakit, itik merupakan unggas yang tahan dari serangan penyakit. Kalaupun ada paling terkena salmonelasis , berak hijau dan lemes. Tapi itu pun jarang terjadi asal kebersihan kandang tetap dijaga dan dekat sumber air.


Ujang Arifin "Juragan" Itik dari Cipinang
MOTIVASI yang kuat dan konsisten menjalani profesi, itulah yang membuat Ujang Arifin seorang peternak itik mampu meraih keuntungan jutaan rupiah tiap bulannya dari produksi telur unggas yang satu ini. Saat "MB" bersama PPL dari Dinas Peternakan Kab. Bandung Ir. Nanang Ridwan berkunjung ke rumahnya di daerah Cipinang, (15 km dari Banjaran arah Pangalengan Kab. Bandung --red) memang ia tidak menampakkan diri layaknya seorang "pengusaha" yang berhasil. Sosoknya tetap sederhana. Yang jelas, pria tamatan SD ini begitu fasih mengungkapkan seluk-beluk beternak itik maupun mengkalkulasikan untung ruginya.
Pada mulanya, tidak terbesit sedikit pun ia bercita-cita menjadi seorang peternak itik. Justru keinginan itu muncul saat ia melihat seorang peternak di wilayah pantura (pantai utara) yang berhasil mengembangkan budidaya itik. Profesi sopir truk yang menjadi mata pencaharian keluarga dengan lapang dada ia tinggalkan. Niat bapak 4 anak ini sudah bulat ingin menjadi peternak itik yang berhasil. Bahkan, untuk mewujudkan impiannya ia rela merogok saku hingga jutaan rupiah untuk "berguru" kepada peternak di daerah Losari, Indramayu hingga ke daerah penghasil telur itik di Jateng. "Saat memulai usaha ini pada tahun 1993. Waktu itu, karena terbentur modal jumlah itik saya cuma 20 ekor. Bahkan lahan untuk kandang pun menyewa," ungkapnya menceritakan awal mula beternak itik.
Kini berkat ketekunannya, mengembangkan pola intensif ternak itiknya sudah berkembang hingga 1.000 ekor lebih dengan tingkat produksi telur mencapai 65% atau 650 butir per harinya. Seluruh hasil produksinya ia lempar ke pasar tradisional yang ada di Kab. Bandung dengan harga rata-rata Rp 600,00/butir. Tapi sebagian besar telur segar ini dijadikan telur asin karena dari segi penjualan lebih menguntungkan. Coba saja per butirnya dijual Rp 800,00. Bahkan agar kualitasnya terjamin Ujang sengaja memberi tempelan merek dagang pada telur asin buatannya.
Itu baru keuntungan dari penjualan telur. Belum termasuk dari penjualan itik yang diafkir (tidak berproduksi lagi) dengan harga Rp 8.500,00/ekor ke peternak di Karangampel, Indramayu karena umurnya di atas 2 tahun. Tidak heran, dari seluruh penjualannya telur asin maupun itik yang diafkir ia bisa meraih keuntungan Rp 6 juta setiap bulannya. "Tapi itu baru keuntungan kotor pak , soalnya belum dipotong biaya pakan, obat dan bayar cicilan bank. Ya keuntungan bersihnya sekitar 3 sampai 4 juta-an," katanya yang mengaku sebagian luas lahan ternak 1.400 m2 sudah mampu ia beli dari hasil ternaknya.

Kunci Sukses
Besarnya minat konsumen terhadap telur asin buatanya, membuat ia kewalahan memenuhi permintaan. Seperti bandar dari Pontianak yang meminta 14.000 butir per minggunya, namun ia baru sanggup memenuhi 1.000 butir karena di samping untuk menjaga kualitas juga ia lebih mementingkan permintaan pasar lokal. "Jangankan untuk memasok ke luar daerah, permintaan lokal pun belum semua terpenuhi akibat minimnya pasokan dari peternak setempat. Rasanya sayang kalau peluang ini tidak dimanfaatkan sebab prospek telur itik ini menjanjikan," tambah Ujang yang tidak pernah berhenti belajar ini.
Ia pun tidak segan-segan mengungkapkan kunci kesuksesannya beternak itik. Yaitu, bibit (DOD) harus dari kualitas super, kandang harus selalu bersih dan terlindung dari panas dan hujan, pemberian pakan yang kontinyu, pemeliharaan yang baik serta manajemen usaha. Nah , kalau bagi peternak pemula saya kira semua kriteria itu harus konsisten dijalankan sebab kalau tidak jangan harap usahanya akan berkembang," tambahnya lagi.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Pengikut

Free advertising
eXTReMe Tracker