dusta pedagang ayam potong

Diposting oleh RDJ on 26 Agustus, 2010

Boleh dibilang daging ayam potong memang menjadi andalan kebutuhan gizi mayoritas masyarakat Indonesia. Di Jakarta saja, kebutuhan ayam potong mencapai 1,5 juta ekor per hari. Sementara di Tanah Air kebutuhan ayam potong ini diperkirakan mencapai tiga juta sampai lima juta ekor per hari. Tak mengherankan, bila keberadaan pedagang ayam potong di sejumlah pasar di Nusantara kerap diserbu pembeli setiap harinya. Bahkan sejak pagi buta konsumen ayam potong sudah bisa membelinya untuk berbagai kebutuhan seperti untuk masakan di rumah dan menu hidangan di rumah makan.

Selain gurih dan nikmat, sajian ayam potong juga mudah ditemui di berbagai rumah makan termasuk di meja makan di rumah. Kota yang paling banyak mengonsumsi ayam potong dapat dipastikan adalah Jakarta. Soalnya konsumsi ayam potong sebanyak 1,5 juta ekor per hari itu bisa dilihat dari banyaknya penjual ayam di pasar-pasar Ibu Kota. Begitu juga dengan warga yang membeli ayam potong untuk berbagai kebutuhan.

Namun tahukah Anda? di Jakarta ternyata hanya baru ada satu rumah pemotongan ayam yang resmi dan memegang izin dari pemerintah serta memenuhi persyaratan. Selebihnya tempat pemotongan ayam yang berjumlah sekitar 1.000 lebih di Jakarta ternyata tidak ada yang resmi dan tak memenuhi syarat dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan DKI.

Dari penelusuran tim Sigi ke sejumlah tempat pemotongan ayam di Jakarta banyak ditemukan fakta yang mengerikan bagi kesehatan terhadap ayam potong itu. Yakni, mereka mengolahnya dengan cara yang melanggar aturan atau ilegal.

Betapa tidak, setelah dipotong atau disembelih, keberadaan ayam broiler atau ayam negeri yang kerap dijual pedagang di pasar itu terlebih dahulu diberi suntikan yang berisi air atau udara. Ini agar terlihat segar dan montok atau berisi ketika dipasarkan. Namun sebelum ayam potong itu disuntik mereka merebus dan mencabuti bulunya hingga memisahkan jeroannya. Itulah yang ditemukan tim Sigi dari tempat pemotongan ayam di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan yang setiap hari memotong ratusan ekor ayam dan menyuntiknya sebelum dipasarkan.

Menurut Kosim, pemotong ayam suntikan di Jaktim, praktik ilegal ayam potong di tempatnya sudah sudah berlangsung lebih dari 15 tahun silam. Tujuannya, agar ayam-ayam yang dipotongnya kelihatan montok dan menarik pembeli. "Biasanya dijual Rp 15 ribu. Nah, kalau disuntik harganya bisa naik dikit," ungkap dia.

Meski mereka sudah tidak menggunakan formalin sebagai pengawet, suntikan ke tubuh ayam itu tentunya membuat kesehatan ayam potong tersebut tidak bisa dijamin lagi. Sejumlah bakteri atau kuman-kuman yang hidup di dalam tubuh ayam potong tersebut sangat berbahaya karena dagingnya membusuk. Menurut Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Edi Setiarso, penyuntikan ayam tersebut itu tidak sehat dan termasuk penipuan. "Itu sudah tidak dibenarkan dan tidak mengikuti aspek ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal). Ayam yang sehat dan halal adalah hal yang penting," tegas Edi.

Selain ayam suntikan, kini juga harus diwaspadai kecurangan para pedagang ayam bangkai atau ayam tiren (mati kemarin). Para penjual ayam seperti ini sengaja menyulap ayam bangkai yang telah mati sehari sebelumnya untuk bisa dijual seperti layaknya ayam potong yang layak komsumsi.

Ada dua jenis ayam bangkai yang biasa dijual di pasaran. Pertama diperoleh dari ayam yang sudah mati sebelum disembelih. Kedua, ayam sisa kemarin alias ayam yang tak laku dijual pedagang kemudian dipermak kembali untuk kembali dijual lagi.

Ayam-ayam tiren ini biasanya kerap dijumpai menjelang perayaan hari raya keagamaan seperti Idulfitri, Natal dan pesta Tahun Baru. Pedagang ayam tiren ini pernah ditemui petugas Dinas Peternakan Yogyakarta di Pasar Bringharjo.

Di Jakarta, pejualan ayam tiren sangat marak dan tak hanya dijual saat permintaan pasar melonjak. Mereka memperjualbelikan ayam tiren ini setiap hari. Hanya saja, ayam-ayam bangkai itu tidak dijual dalam bentuk daging mentah melainkan sudah diolah alias dimasak terlebih dulu dan dipotong dalam menjadi delapan potong.

Berdasarkan penelusuran tim Sigi penjualan ayam tiren ternyata memakai trik khusus. Misalnya, untuk mengelabui pembeli, ayam bangkai itu tetap disembelih agar seperti ayam potong normal. Menurut Husni, penjual ayam tiren, kebanyakan konsumen tak mengetahui kondisi ayam dan membeli dengan harga murah. "Kebanyakan pembeli itu jarang paham dan maunya harga murah," kata penjual ayam tiren.

Husni mengaku untuk menyulap warna daging ayam tiren yang cenderung kebiru-biruan dirinya merendamnya dengan air kunyit. Ayam-ayam bangkai itu biasanya ia dapatkan dari beberapa penampungan ayam broiler di Jakarta. Harga satu ekor ayam itu dibeli Rp 5.000 dan dijual kembali per potong Rp 2.000. "Satu ekor jadi delapan potong, satu potong Rp 2.000 dan sehingga satu ekor menjadi Rp 16 ribu," kata dia. Husni juga mengaku dalam seharinya bisa menjual sedikitnya 10 ekor ayam tiren. Penghasilannya ia dalam sebulan bisa mencapai Rp 3 juta.

Dalam sehari setidaknya ada sekitar 1.500 ekor ayam potong yang mati di Jakarta baik selama dalam perjalanan atau selama berada di penampungan. Sebagian kecil jumlahnya berhasil dirazia petugas Dinas Peternakan untuk dimusnahkan. Namun ayam bangkai yang tidak terkena razia kerap dijual kembali oleh sejumlah pedagang.

Razia dan pengawasan pasar-pasar daging ayam seperti itu sebenarnya rutin dilakukan oleh petugas. Tujuannya merazia dan menyita ayam suntik dan ayam tiren masuk ke pasar daging. Sepanjang tahun 2006 saja di Jakarta telah digelar operasi lebih dari 600 kali. Akan tetapi, tak selamanya razia itu mendapatkan hasil. Hingga November 2006 ini, lebih dari 700 pedagang ayam terkena razia dan lebih dari 75 ribu ekor ayam tak layak konsumsi disita petugas.

Para pedagang ayam bangkai yang dirazia itu kerap bersembunyi ketika menjajakan dagangannya. Walau begitu keberadaan mereka kerap diketahui petugas. "Mereka menjual ayamnya sembunyi-sembunyi dan kerap menumpuknya dengan ayam-ayam potong lainnya," ungkap Agung Priambodo, Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Dinas Peternakan DKI.

Maraknya penjualan ayam suntik dan ayam bangkai tentu saja sangat merugikan konsumen. Lantaran itulah, bagi Anda yang hobi mengonsumsi ayam sebaiknya lebih jeli dan teliti sebelum membeli. Waspadai harga ayam potong yang murah. Dan jangan membeli ayam potong yang dijajakan di pinggir jalan atau bukan di pasar daging resmi.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Pengikut

eXTReMe Tracker